Penggunaan atap dak beton menjadi tren tersendiri di berbagai wilayah Indonesia, khususnya
pada rumah-rumah berdesain modern. Selain memberikan kesan minimalis dan elegan, jenis
atap ini juga sering difungsikan sebagai rooftop atau taman kecil di bagian atas rumah. Namun,
efektivitas penggunaannya tidak selalu sama di semua daerah. Ada banyak faktor yang
memengaruhi keberhasilan penerapan struktur ini, seperti tingkat kelembaban, curah hujan, dan
kemampuan biaya pembangunan.
Data dari beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa adopsi atap beton masih tergolong
rendah. Contohnya, di Kota Tarakan, Kalimantan Utara, hanya sekitar 1,71% rumah yang
menggunakan jenis atap ini pada tahun 2022, sedangkan mayoritas penduduk masih
mengandalkan atap seng. Di Kota Malang, proporsinya sedikit lebih tinggi yaitu 5,74%, namun
tetap kalah jauh dibandingkan penggunaan atap genteng yang mencapai 73,71%. Hal ini
menunjukkan bahwa meskipun desain atap beton menarik secara visual dan fungsional, kondisi
iklim dan biaya menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat.
Kelebihan yang Layak Dipertimbangkan
Salah satu keunggulan utama atap beton adalah kemampuannya dalam meredam panas
matahari. Dengan ketebalan yang sesuai, jenis atap ini dapat menjaga suhu ruangan tetap
sejuk meskipun cuaca di luar sangat panas. Ini merupakan keuntungan besar bagi daerah
dengan suhu tinggi atau minim pepohonan pelindung.
Selain itu, permukaan yang rata dan kokoh menjadikannya mudah dibersihkan. Anda hanya
perlu menyapu atau menyiram air untuk membersihkan debu dan kotoran yang menempel. Dari
segi kekuatan, beton merupakan material yang sangat tahan lama dan mampu menahan
berbagai kondisi cuaca ekstrem. Inilah sebabnya jenis atap ini banyak digunakan pada
bangunan publik, apartemen, hingga perumahan elit.
Tantangan dan Kelemahannya
Meski memiliki banyak kelebihan, penggunaan atap beton juga menyimpan beberapa
tantangan. Pertama adalah biaya pembangunan yang cukup tinggi, karena memerlukan
material dan teknik konstruksi khusus. Proses pengecoran, penguatan struktur, dan pelapisan
anti bocor menambah daftar biaya yang harus dikeluarkan.
Tantangan lainnya adalah tingkat kelembaban dalam ruangan yang bisa meningkat jika
perencanaan tidak tepat. Beton menyerap panas dengan baik, namun setelah malam hari, suhu
akan turun dan kelembaban bisa meningkat. Hal ini sering kali menyebabkan ruangan terasa
lembap dan berisiko ditumbuhi lumut, apalagi jika ventilasi buruk.
Selain itu, genangan air menjadi masalah umum. Jika atap tidak memiliki kemiringan yang
sesuai, air hujan bisa menggenang dan mempercepat kerusakan permukaan. Inilah sebabnya
sistem drainase dan pelapisan anti air harus dirancang dengan sangat hati-hati.
Memilih jenis struktur penutup rumah tidak hanya soal estetika, tetapi juga harus
mempertimbangkan iklim lokal dan kemampuan biaya. Atap dak beton memang memberikan
banyak keuntungan dalam hal kekuatan dan fungsi tambahan, namun tidak cocok diterapkan
secara sembarangan. Pastikan kondisi cuaca di daerah Anda mendukung, dan siapkan
anggaran yang sesuai untuk membangun serta merawat atap jenis ini agar tetap berfungsi
optimal dalam jangka panjang.